Tradisi Musik Saronen Mengiringi Petani Bercocok Tanam

Ada tradisi yang hilang diawal cocok tanam itu, yakni musik tradisional saronen yang mengiringi petani bercocok tanam. Tradisi itu, mulai dihidupkan kembali oleh warga Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding, Sumenep.

Salah satu tokoh pemuda Desa Rombiyah Timur, Sukrianto mengatakan, musik saronen yang mengiringi para petani cocok tanam melambangkan wujud syukur pada Tuhan dan menyambut riang gembira dengan turunnya hujan.

Dulu, petani menganggap bertani itu bukan sekedar kebutuhan keamanan pangan, tapi juga memperkuat tradisi gotong royong. Saat ini, selain sebagai hiburan bagi petani sekaligus melestarikan budaya musik tradisional saronen memiliki nilai lebih bagi warga Madura. Buktinya, setiap kali memiliki nazar selalu dihubungkan dengan kehadiran musik saronen. Nazar itu masih melekat dalam tradisi Madura. Misalnya, bila sukses beternak atau bertani, maka akan menghadirkan pemusik saronen.

Apa itu Musik Saronen ?

musik saronen adalah sebuah alat musik yang berasal dari Timur Tengah. Alat musik itu di daerah asalnya dikenal dengan beraneka ragam nama, yaitu surnai, sirnai, sarune, shahnai. Namun di Madura alat ini sudah dimodifikasi bunyinya. Musik saronen dikaitkan dengan sapi (pada waktu kerapan sapi dan untuk pertandingan kecantikan sapi betina), dengan kuda (untuk upacara ritual di makam keramat atau untuk upacara pesta perkawinan), dengan beberapa acara ritual rumah tangga tertentu, serta dengan tarian topeng yang mendahului upacara ritual tertentu (klono).

Adapun komponen saronen itu terdiri dari :

  1. Tabbhuwan raja dan tabbhuwan kene’ yaitu masing-masing sebuah gong besar dan sebuah gong kecil yang digantung pada penopang yang sama dan dipukul oleh seorang penabuh dengan sebuah palu bersalut kain (bhutabbu) yang digunakan untuk memukul kedua gong itu secara bergiliran
  2. Sebuah pendong (gong kecil) serta sebuah kennong pernanga yang ditabuh oleh seorang pemain dengan bantuan pemukul dari kayu kaleke, kennong pernanga terbuat dari besi, sedangkan pentolnya dari kuningan maka alat itu mirip periuk besar (ketel) berbinjul di tengah yang ditaruh terbalik di lantai. Pendong tergantung pada ujung penopang kayu tadi
  3. Sebuah kennong lain yang ditaruh di lantai dan dinamakan kolkol; terbuat dari ghangsa (campuran kuningan dan perunggu)
  4. Ghendang raja adalah sebuah gendang besar yang memiliki selaput kulit sapi pada kedua ujungnya. Alat itu ditabuh pertama-tama dengan tongkat kayu, lalu dengan tangan oleh seorang penabuh yang duduk di lantai dan memangku alat itu
  5. Ghendhang kene’ adalah sebuah gendang kecil yang diberi selaput kulit sapi pada kedua ujungnya dan berbentuk kerucut terpotong di tengah. Alat itu ditabuh terus dengan tongkat kayu nangka
  6. Sebuah saronen dari kayu jati.
  7. Kerca-kerca yaitu sepasang simbal kecil. Jumlah instrumen tidak tetap. Beberapa orkes hanya mencamtumkan dua saronen, sedangkan yang lainnya mencantumkan empat kennong tetapi satu ghendang saja.
READ  Inilah Perbedaan Fungsi Otak Kiri dan Otak Kanan

Peristilahan instrumen juga berubah-ubah menurut rombongan yang bersangkutan. Salah satu versi menyatakan, konon kesenian di Sumenep ini usianya lebih dari lima ratus tahun yang diciptakan oleh Ki Hatib dari desa Sendang, kecamatan Pragaan, pendiri pondok pesantren pertama di Madura.

Ki Hatib Sendang adalah salah seorang katandur. Instrumen Saronen berjumlah sembilan, yang merupakan filosofi dari sembilan suku kata dari kalimat Bis Mil La Hir Roh Ma Nir Ro Him, karena saat itu saronen merupakan sarana dakwah.

Pada awalnya Saronen dinamakan Sennenan karena selalu dimainkan pada hari Senin di pasar Ganding Kecamatan Ganding, diiringi oleh dua orang pelawak yang menari (atandang) sesuai dengan irama musik. Sekali-sekali kedua pelawak tersebut berhenti menari lalu melantunkan pantun yang bernada dakwah yakni mengajak masyarakat agar menganut agama Islam secara benar dan kaffah.

Lama-kelamaan saronen dijadikan pengiring penganten, rokat, khitanan, kerapan sapi, sapi sono’ dan lainnya. Yang menarik dan menjadi jiwa dari musik asal Madura itu adalah alat tiup berbentuk kerucut, terbuat dari kayu jati dengan enam lobang berderet di depan dan satu lubang di belakang.

Sebuah gelang kecil dari kuningan mengaitkan bagian bawah dengan bagian atas ujungnya terbuat dari daun siwalan. Pada pangkal atas alat musik itu ditambah sebuah sayap dari tempurung menyerupai kumis sehingga menambah kejantanan dan kegagahan peniupnya.

READ  Tradisi Belale’an Dan Banyak Yang Mengetahui Sejarah Bercocok Tanam Masyarakat Madura

Alat musik Saronen biasanya dipakai sebagai pembuka komposisi dengan permainan solo. Suaranya yang sedikit sengau dan demikian keras, meloncat-loncat, melengking-lengking dan meliuk-liuk dalam irama yang menghentak. Baru setelah itu diikuti oleh pukulan alat musik lainnya. Perpaduan alat-alat musik tersebut menghasilkan keselarasan irama.

Setiap komposisi musik yang dimainkan, diawali dalam tempo lamban yang berubah menjadi tempo medium, lalu semakin cepat, atau sebaliknya, permainan diawali langsung dalam tempo medium langsung berubah menjadi cepat dan berakhir dengan tempo yang semakin cepat.

Permainan yang sangat variatif dan penuh improvisasi dari para pemain, serta teriakan yang dilontarkan para pemain menambah kegairahan pada irama yang sudah melengking dan meloncat-loncat. Dalam setiap permainan, setiap komposisi lagu berakhir seketika, dalam arti semua instrumen berhenti pada saat yang sama.

Seperti halnya instrumen musik lain, Saronen dapat dimainkan sesuai dengan jenis irama yang diinginkan. Walaupun sangat dominan memainkan jenis irama mars, dalam bahasa Madura irama sarka’, Saronen itu mampu menghasilkan jenis irama lainnya, yaitu irama lorongan (irama sedang). Jenis irama itu terdiri dari dua, yaitu irama sedang “lorongan jhalan” dan irama slow ‘lorongan toju’.

Masing-masing irama tersebut dimainkan di berbagai kegiatan kesenian dengan acara serta suasana yang berbeda. Untuk irama sarka’, biasanya dimainkan dalam suasana riang dan permainan musik cepat dan dinamis.

READ  Waspada Bahaya Terlalu Banyak Makan Pedas

Tujuannya adalah memberikan semangat dan suasana hangat. Adapun semua lagu dapat digubah dalam irama sarka’. Sementara itu, untuk jenis irama lorongan, baik lorongan jhalanlorongan toju’ (slow), lagu-lagu yang dimainkan biasanya berasal dari berbagai lagu gending karawitan. Ketika mengiringi karapan sapi menuju lapangan untuk berlaga, irama sarka’ itu dimainkan untuk memberikan dorongan semangat, baik kepada sapi atau pun pemilik serta para pengiring-nya.

Begitu pula ketika Saronen mengiringi sepasang pengantin, irama itu dimainkan sampai sepasang pengantin itu mencapai pintu gerbang. Musik berirama sarka’ itu, mampu menciptakan suasana hangat dan kegembiraan bagi penonton. Sedangkan irama lorongan jhalan (irama sedang), biasanya dimainkan pada saat dalam perjalanan menuju lokasi tujuan.

Baik ketika sedang mengiringi sapi kerapan ataupun atraksi sapi sono’. Selain itu, irama itu dimainkan ketika mengiringi atraksi kuda serek (jaran kenca’) atau pun di berbagai acara ritual yang berkaitan dengan prosesi kehidupan manusia. Adapun lagu-lagu yang dimainkan berasal dari lagu-lagu gending karawitan, seperti gending Nong-Nong, Manyar Sebuh, Lan-jalan ataupun Bronto Sewu.

Irama lorongan toju’, biasanya memainkan lagu-lagu gending yang berirama lembut (slow). Jenis irama itu dipakai untuk mengungkapkan luapan perasaan yang melankonis, rindu dendam, suasana sedih ataupun perasaan bahagia.

Irama lorongan toju’ biasa dimainkan ketika mengiringi pengantin keluar dari pintu gerbang menuju pintu pelaminan.Adapun gending-gending yang dimainkan adalah alunan gending Angling, Rarari, Puspawarna, Kinanti, Gung-Gung dan lainnya.