Cek Sejarah dan Fakta tentang Plastik!

Sejarah dan Fakta tentang plastik

Asal Usul Plastik

Meskipun jelas bahwa plastik tetap penting untuk pembuatan manusia, senyawa yang digunakan di masa depan tidak akan lagi memiliki efek lingkungan yang merugikan seperti yang kita lihat di masa lalu.

Mungkin mengejutkan Anda apabila mengetahui bahwa plastik belum tentu sintetis. Padahal, karet yang berasal dari pohon karet merupakan plastik pertama yang banyak digunakan di dunia. Kata “plastik” awalnya mengacu pada zat apa pun yang “lentur dan mudah dibentuk”. Bukti paling awal tentang asal usul plastik adalah penggunaan karet alam selama puncak budaya Olmec di Mesoamerika.

Ribuan tahun kemudian, Charles Marie de La Condamine memperkenalkan sampel bahan ini kepada komunitas ilmiah Eropa pada tahun 1736. Pada tahun 1751, sebuah makalah yang ditulis oleh Francois Fresneau menggambarkan sifat karet dan pada tahun 1770, Edward Nairne, seorang insinyur Inggris, menemukan kemampuannya untuk menghapus tanda pensil dari kertas, sehingga menciptakan penghapus pertama.

Baru sejak revolusi industri, plastik sintetis masuk ke masyarakat modern. Plastik ini adalah keluarga polimer dengan molekul berulang panjang yang terutama terbuat dari karbon. Karena kemampuannya untuk bereaksi berulangkali dengan bahan ini dan senyawa lain, senyawa ini tetap menjadi salah satu bahan paling serbaguna yang digunakan saat ini. Artikel dari Science Direct ini akan memberi Anda garis waktu terperinci tentang asal-usul dan masa depan plastik.

READ  Ini Mendapat Manfaat Puasa Tanpa Harus Menahan Lapar Sepanjang hari? Cobain Cara Ini : Puasa Palsu

Bangkitnya Plastik Sintetis

Polimer sintetik pertama muncul dari peristiwa yang relatif aneh dalam sejarah manusia. Meningkatnya popularitas permainan biliar menyebabkan kekurangan gading alami. Hal ini mendorong sebuah perusahaan di New York untuk menawarkan $10.000 kepada siapa saja yang dapat menemukan penggantinya.

Tertarik dengan hadiahnya, John Wesley Hyatt mulai bereksperimen dengan selulosa. Pada tahun 1869, ia menemukan bahwa dengan mengolah zat yang berasal dari serat kapas dengan kapur barus, ia dapat menciptakan produk yang meniru bahan alami seperti kulit penyu, tanduk, linen, dan gading.

Terobosan revolusioner ini berarti bahwa umat manusia tidak lagi harus bergantung pada bahan alami untuk membuat barang dan produk. Publik memujinya sebagai penyelamat gajah (sumber utama gading pada saat itu) dan kura-kura.

Pada tahun 1907, Leo Baekeland menemukan Bakelite, yang merupakan plastik pertama yang seluruhnya terbuat dari bahan sintetis. Sambil mencari pengganti lak, dia mengembangkan Bakelite untuk memproduksi isolator sintetis selama periode elektrifikasi cepat di Amerika Serikat. Kesuksesan Baekeland mendorong perusahaan kimia untuk berinvestasi dalam penelitian polimer sintetik, dan jenis plastik baru yang cocok untuk berbagai kegunaan terus memasuki pasar.

Manufaktur Plastik dalam Sejarah Terbaru

Selama Perang Dunia II, aplikasi industri untuk plastik mendapat perhatian baru dari produsen. Penemuan nilon oleh Wallace Carothers pada tahun 1935 berarti militer dapat memproduksi parasut, tali, pelapis helm, dan pelindung tubuh. Demikian pula, Plexiglas memungkinkan produsen pesawat mengembangkan jendela yang tahan lama. Produksi plastik di Amerika Serikat selama periode ini tumbuh sebesar 300%.

READ  10 Negara dengan Masalah Pencemaran Lingkungan Terparah di Dunia

Setelah perang, industri terus berkembang selama tahun 1950-an dan 1960-an. Hampir setiap produk alami tidak lagi penting untuk proses manufaktur. Dari pembuatan mobil hingga pengemasan dan furnitur, plastik digunakan di mana-mana. Pada saat ini juga umat manusia mulai menemukan bahaya bahan yang terbuat dari plastik.

Kebakaran di Sungai Cuyahoga pada tahun 1969 mulai menimbulkan kekhawatiran atas teknik pembuatan yang digunakan selama proses produksi. Pada saat itulah kami pertama kali mengamati sampah plastik di lautan.

Langkah Menuju Plastik Berkelanjutan

Karena sekarang kita menyadari efek negatif dari pembuatan plastik dan produknya terhadap lingkungan, ada dorongan untuk mengembangkan polimer baru yang ramah lingkungan. Upaya terbaru termasuk mendaur ulang produk plastik serta mempelajari kelayakan senyawa baru yang dapat terurai secara hayati.