Fenomena Kesurupan Dalam Pertunjukan Jaranan Atau Kuda Lumping

Dalam jaranan atau kuda lumping, ada momen yang ditunggu penonton. Yakni, saat pemain ndadi alias kesurupan. Tubuhnya dikuasai makhluk yang sengaja dipanggil. Diiringi suara lecutan dan gamelan, tubuh pemain bergerak liar meski matanya terpejam.

Awalnya pada waktu sebelum kesurupan, pemain akan merasakan kepalanya pusing, badannya terasa ringan dan akhirnya tidak sadar. Akan tetapi uniknya, indra pendengaran akan terasa lebih peka, apalagi dengan suara-suara kendang ataupun gamelan. Olehkarena itulah, walaupun mereka tidak sadar tetapi badannya seolah digerakkan tanpa bisa dikendalikan mengikuti irama musik gamelan.

“Ndadi” Pada Pemain Jarana

“Ndadi” atau kesurupan merupakan fenomena yang sudah tidak asing oleh para pecinta budaya lokal, karena erat kaitanya dalam pertunjukan-pertunjukan seperti ini. pemain akan menari mengikuti gamelan dan akan diam jika musik berhenti. masih berdasarkan pengakuan penari jaranan lainnya, pada saat kesurupan ini pemain melihat penonton terlihat kecil-kecil disekelilingnya.

adapun proses dalam menyadarkan pemain juga menarik untuk dilihat, jika dirasa cukup maka “bopo”(pawang) akan datang menghampirinya. Menariknya, ada pemain yang akan meminta hal aneh-aneh sebelum mau disadarkan. Dalam berbagai kesempatan, ada yang meminta dihadapkan asap kemenyan terlebih dahulu, ada juga yang meminta untuk dicambuk badannya. Selain itu juga ada yang meminta diangkat badannya lalu diputar-putar diudara dan masih banyak lagi lainnya.

READ  Buku Harian Anne Frank & Kutipan Inspiratif Bagi Anda

Setelah disadarkan, pemain umumnya merasa lemas, mual bahkan sampai muntah-muntah dan perlu bantuan temannya untuk berjalan kembali. Efek setelah kesurupan ini tidaklah berlangsung lama, dengan beristirahat sekitar setengah jam semua akan normal kembali tapi tentu saja setiap pemain berbeda-beda waktu pemulihannya.

Mediasi agar pemain tersebut dapat cepat kesurupan juga ada berbagai cara, seperti dengan asap dupa yang sudah disiapkan dari awal pertunjukan, suara kendang yang menderu-deru dan suara pecut disekitarnya akan mempercepat proses kesurupan ini.

Timbulah pertanyaan, apakah setiap pemain pasti akan kesurupan? jawabannya tidak semua, hal tersebut berkaitan dengan kemauan ataupun kondisi dilapangan. Ada yang mudah kesurupan dan ada juga pemain yang sulit. Apapun yang terjadi semuanya hanyalah demi kebutuhan hiburan semata dan cara melestarikan budaya. Adapun pro dan kontra dalam hidup itu sudah biasa, tergantung bagaimana kita memandangnya.

Nilai-nilai dari “ndadi” dalam pertunjukan jarana

Nilai-nilai yang dapat kita petik dari fenomena kesurupan dalam pertunjukan jaranan atau kuda lumping ini diantaranya kita menyadari bahwa manusia hidup berdampingan dengan makhluh alam lain sehingga hendaknya kita menghargainya. Sisi positif lainnya adalah kita akan menyadari bahwa kita hanyalah manusia yang kecil tanpa daya tanpa pertolongan Sang Pencipta.

READ  Resep Kapurung, Makanan Khas Palopo Sulawesi Selatan

dengan begitu, kita juga akan memahami kekuasaan Tuhan begitu nyata, yang mampu menciptakan dunia seisinya beserta makhluk-makhluk ciptaan-NYA. Pesan tersirat dalam pertunjukan ini tentunya kita diharapkan selalu menyerahkan diri seutuhnya kepada Yang Maha Kuasa, hal ini terlihat pada prosesi pembukaan acara yang biasanya diawali dengan doa bersama untuk meminta permohonan ijin dan keselamatan kepada Sang Pencipta.

Begitupun pada akhir dari pertunjukan, terdapat ritual doa yang intinya adalah mengucapkan syukur atas berjalannya acara dengan baik dan lancar. Semua yang terjadi, baik sebelum maupun sesudah acar bisa terjadi berkat ijin-NYA. Adapun dalam mengenalkan budaya seperti ini, harus memahami makna yang terkandung didalamnya sehingga anak kecil atau masyarakat awam yang ikut menjadi penontonnya tidak salah memahaminya.