Hal yang Harus Kamu Ketahui Tentang Stunting

Hal yang Harus Kamu Ketahui Tentang Stunting

Stunting adalah kondisi di mana tinggi badan seseorang berada di bawah garis batas normal untuk usia dan jenis kelamin tertentu. Kondisi ini biasanya ditemukan pada anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun, karena pada masa ini adalah masa pertumbuhan dan perkembangan yang penting bagi anak. Namun, stunting juga dapat terjadi pada usia yang lebih tua jika masalah gizi kronis tidak diatasi sejak dini.

Kekurangan gizi yang dialami sejak dini dalam masa perkembangan akan menyebabkan masalah kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung seumur hidup, sehingga menurunkan produktivitas dan kualitas hidup. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah gizi pada anak sejak dini, sebelum usia 5 tahun.

Bagaimana Stunting di Indonesia

Di Indonesia, stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius. Menurut data dari WHO, tingkat stunting di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 37,2%. Ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat stunting tertinggi kedua di ASEAN setelah Timor Leste.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya tingkat stunting di Indonesia antara lain kurangnya akses pangan yang bergizi, kurangnya pendidikan kesehatan dan nutrisi, kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang baik, serta kondisi sosio-ekonomi yang buruk.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan program-program untuk menangani stunting, seperti program gizi balita, program pemberian makanan tambahan, serta program pendidikan kesehatan dan nutrisi. Namun, masih diperlukan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk masyarakat, untuk mengatasi masalah stunting ini secara efektif.

Penyebab Stunting

Penyebab stunting dapat berkaitan dengan masalah gizi, kesehatan, dan lingkungan. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan stunting antara lain:

  1. Malnutrisi: kurangnya asupan nutrisi yang cukup selama masa pertumbuhan, seperti protein, zat besi, dan vitamin A.
  2. Infeksi: infeksi yang berulang seperti diare, ISPA dan Malaria dapat menyebabkan kurangnya pertumbuhan.
  3. Air bersih dan sanitasi: kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang baik dapat menyebabkan infeksi dan diare.
  4. Pendidikan: orang tua yang tidak mendapat pendidikan yang cukup mungkin kurang mengetahui cara memberikan asupan nutrisi yang baik bagi anak-anak mereka.
  5. Lingkungan ekonomi : Kondisi sosio-ekonomi yang buruk dapat menyebabkan keterbatasan akses pangan yang baik dan kesehatan.
  6. Kondisi ibu hamil : Kondisi ibu hamil yang buruk dapat menyebabkan masalah pertumbuhan janin dan bayi yang lahir dengan berat badan rendah.
READ  Kenapa Seseorang Bisa Selingkuh?

Dampak yang timbul karena Stunting

Stunting pada anak dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang, baik fisik maupun mental. Beberapa efek yang mungkin terjadi pada anak yang mengalami stunting antara lain:

  1. Masalah pertumbuhan: tinggi badan yang kurang dari normal dapat menyebabkan masalah pertumbuhan dan perkembangan fisik.
  2. Masalah kognitif: anak yang mengalami stunting mungkin memiliki masalah dalam belajar dan pemahaman, karena masalah gizi dapat menyebabkan kerusakan otak.
  3. Masalah imun: anak yang mengalami stunting mungkin memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga lebih rentan terhadap infeksi.
  4. Masalah kesehatan jangka panjang: anak yang mengalami stunting mungkin lebih rentan terhadap masalah kesehatan jangka panjang seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.
  5. Masalah sosial ekonomi: anak yang mengalami stunting mungkin memiliki kesulitan dalam belajar dan bekerja di masa depan, sehingga lebih rentan terhadap keterbatasan sosial ekonomi.

Prevensi stunting dapat dilakukan dengan cara memberikan asupan nutrisi yang cukup, menjaga kesehatan anak, serta memberikan pendidikan kesehatan dan nutrisi kepada orang tua.

Menurut WHO, anak dikatakan stunting jika tinggi badannya berada di bawah garis batas normal untuk usia dan jenis kelamin tertentu. Garis batas ini diukur dengan menggunakan indeks tinggi untuk usia (HAZ), yang dihitung dengan membandingkan tinggi badan anak dengan tinggi badan anak lain yang seusia di seluruh dunia. Jika HAZ anak lebih kecil dari -2, maka anak tersebut dikatakan stunting.

READ  Lutein: Inilah betapa pentingnya karotenoid bagi mata

Selain itu, dokter anak juga dapat mengevaluasi tinggi badan anak dari perkembangan normal tinggi badan anak sesuai dengan usianya. Jika tinggi badan anak tidak sesuai dengan perkembangan normal, dokter anak dapat mencurigai stunting dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.

Standar tinggi badan anak yang normal dan stunting berdasarkan jenis kelamin ditentukan dengan menggunakan Indeks Tinggi untuk Usia (HAZ) yang dihitung dengan membandingkan tinggi badan anak dengan tinggi badan anak lain yang seusia di seluruh dunia.

Anak dikatakan stunting jika HAZ-nya lebih kecil dari -2. Jika HAZ anak sesuai atau lebih besar dari -2, maka anak tersebut dianggap normal. Namun, perlu diingat bahwa standar ini hanya merupakan garis batas umum dan tidak berlaku untuk setiap anak, karena perkembangan normal tinggi badan anak juga dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan.

Itu menjadi standar umum dari WHO, namun perlu diperhatikan juga standar tinggi badan anak yang normal berbeda-beda di setiap negara, karena dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan dan faktor lainnya.

Cara mencegah Stunting

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting pada anak antara lain:

  1. Memberikan asupan nutrisi yang cukup: memberikan makanan yang bergizi dan seimbang sejak dini, terutama pada masa kehamilan dan bayi, dapat membantu mencegah stunting.
  2. Menjaga kesehatan anak: menjaga anak dari infeksi yang berulang seperti diare dan ISPA, serta memberikan perlindungan terhadap Malaria melalui vaksinasi dan pengobatan yang tepat dapat membantu mencegah stunting.
  3. Memberikan Pendidikan kesehatan dan nutrisi kepada orang tua: memberikan pendidikan kesehatan dan nutrisi kepada orang tua, seperti cara memberikan asupan nutrisi yang baik bagi anak-anak, dapat membantu mencegah stunting.
  4. Memperbaiki akses air bersih dan sanitasi: meningkatkan akses air bersih dan sanitasi yang baik dapat membantu mencegah infeksi dan diare, sehingga dapat mencegah stunting.
  5. Memperbaiki kondisi sosio-ekonomi: memperbaiki kondisi sosio-ekonomi, seperti meningkatkan pendapatan dan mengurangi kemiskinan, dapat membantu meningkatkan akses pangan yang baik dan kesehatan, sehingga dapat mencegah stunting.
  6. Memperhatikan kondisi ibu hamil : Memperhatikan kondisi ibu hamil, seperti kondisi gizi dan kesehatan, dapat mencegah masalah pertumbuhan janin dan bayi yang lahir dengan berat badan rendah.
  7. Program-program kesehatan yang sesuai dari pemerintah : Pemerintah juga harus menyediakan program-program kesehatan yang sesuai dan terpadu untuk menangani stunting secara efektif.
READ  10 Alasan Mengapa Metode Positive Discipline adalah Pendekatan Terbaik untuk Parenting