Keunikan-Keunikan Tana Toraja Serta Adat Istiadat Yang Menjadi Objek Wisata

Tana toraja adalah salah satu kabupaten yang berada di Sulawesi selatan, Indonesia. Ibu kota dari kabupaten ini ada di kacamatan maleke. Suku toraja ini yang mendiami daerah penggunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan suku budaya batak toba dan nias yang ada di sumatara utara. Tana toraja ini merupakan salah satu objek wisata unggulan di provinsi Sulawesi selatan.

Toraja merupakan salah satu daerah di Indonesia yang sampai saat ini masih memegang erat budaya mereka dari jaman nenek moyang. Salah satu adat istiadat yang terkenal ialah ritual pemakaman, rumah adat tongkonan, dan berbagai ukiran kayu yang khas. Hal ini menjadi daya tarik dari suku toraja. Tana Toraja adalah tempat konservasi peradaban budaya Proto Melayu Austronesia yang masih terawat hingga kini. Kebudayaan adat istiadat, seni musik, seni tari, seni sastra lisan, bahasa, rumah, ukiran, tenunan dan kuliner yang masih sangat tradisional. Pemerintah Indonesia mengupayakan agar Tana Toraja bisa dikenal di dunia Internasional, salah satunya adalah mencalonkan Tana Toraja ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Kebanyakan masyarakat Tana Toraja hidup sebagai petani. Komoditi andalan dari daerah ini adalah sayur-sayuran, kopi, cengkeh, cokelat dan vanili. Pantai Tanjung Bira yang terletak di ujung paling selatan Propinsi Sulawesi Selatan ini terkenal karena memiliki pasir putih yang sangat lembut dan kejernihan pantainya. Keunikan Toraja bukan hanya menjadi milik Suku Toraja sendiri, tapi juga miliki seluruh warga negara Indonesia. Bagaimana tidak, sebagai warga Indonesia, kita patut tahu dan turut melestarikan kebudayaan tersebut sebagai bagian dari Indonesia.

Berikut keunikan dari tana toraja :

1.Upacara Pemakaman “Rambu Solo”

Melalui upacara Rambu Solo’ inilah bisa anda saksikan bahwa masyarakat Toraja sangat menghormati leluhurnya. Prosesi upacara pemakaman ini terdiri dari beberapa susunan acara, dimana dalam setiap acara tersebut anda bisa menyaksikan nilai-nilai kebudayaan yang sampai sekarang masih tetap dipertahankan oleh masyarakat Toraja.

2. Berbagai macam Kuburan

obyek wisata di Toraja ini justru menyuguhkan tempat wisata yang terkesan sedikit menyeramkan, bukannya memamerkan keindahan alam. Namun, begitulah adanya dan nyatanya, kuburan unik di Toraja tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal. Kuburan di Toraja bermacam-macam ada kuburan gantung, kuburan batu, kuburan goa, dan kuburan pohon. Setiap kuburan cukup unik karena setiap kuburan ini memiliki cerita masing-masing. Misalnya saja seperti bayi yang meninggal dan belum tumbuh gigi, maka akan dimakamkan di Pohon Tarra dengan maksud bayi tersebut dapat meminum getah pohon sebagai ganti ASI.

READ  Sungai Terdalam Di Dunia Yang Harus Kamu Tahu

3. Adu Kerbau “Ma’Pasilaga Tedong”

Ma’ Pasilaga Tedong atau Tedong Silaga bukan lagi hal yang asing bagi sebagian orang yang pernah mengunjungi Toraja. Ma’ pasilaga tedong atau Adu Kerbau adalah sebuah tradisi di Toraja sejak dari nenek moyang yang tetap dilestarikan sebagai salah satu bagian dari rambu solo’. Tak ada salahnya jika tedong silaga bisa dikatakan sebagai salah satu daya tarik Toraja karena merupakan salah satu acara yang paling meriah dan menarik untuk disaksikan secara langsung. Selain menyajikan keseruannnya tedong silaga menyimpan keunikan keunikan tersendiri yaitu nama nama kerbau yang unik unik.

4. Cara Menyembelih Kerbau “Ma’Tinggoro Tedong

Ini merupakan tradisi yang bisa disebut uji adrenalin karena beberapa orang tidak berani untuk menyaksikan acara ini secara langsung karena takut atau mungkin tidak tega melihat kerbau tersebut, akan tetapi bagi orang Toraja ini adalah tradisi dan sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Mungkin bisa dibilang kalau acara ma’tinggoro ini menjadi sebab Parang Toraja di kenal sampai diluar Toraja karena ketajamannya, cukup satu kali tebas untuk membunuh seekor kerbau.

5. Rumah Adat Tongkonan

Tongkonan merupakan akar silsilah rumpun keluarga orang Toraja. Jadinya miris bila generasi muda Toraja melupakan atau pura-pura lupa asal usul leluhur keluarganya. Seni arsitektur yang masih tradisional ini menurut tradisi lisan masyarakat Toraja meyakini bahwa bentuk itu dilatarbelakangi awal datangnya leluhur orang Toraja dengan menggunakan perahu. Bentuk perahu itulah ilham pembuatan rumah Tongkonan, sehingga bentuk atapnya menjulang ke depan dan ke belakang. Rumah adat berbentuk perahu ini biasa juga disebut Lembang (masih ingat lirik lagu Toraja; “garagan ki’ Lembang Sura’, lopi di maya-maya”) Rumah adat khas Toraja ini, selain berfungsi sebagai tempat tinggal, juga mempunyai fungsi dan peranan serta arti yang sangat penting dan bernilai tinggi dalam kehidupan masyarakat Toraja. Tongkonan, bangunan dengan atap berbentuk perahu ini dianggap sebagai pusaka warisan dan hak milik turun temurun dari orang yang pertama kali membangun Tongkonan tersebut.Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan rumah adat ini sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja. Kata Tongkonan berasal dari kata “Tongkon” (duduk_berkumpul) mengandung arti bahwa rumah Tongkonan itu ditempati untuk duduk mendengarkan serta tempat untuk membicarakan dan menyelesaikan segala permasalahan penting dari anggota masyarakat dan keturunannya.

READ  Kepercayaan Penduduk Tana Toraja Dan Keunikan Rumah Adat Di Tana Toraja

6. Upacara Penggantian Baju Jenazah “Ma’Nene”

Di Toraja ada sebuah ritual atau kebiasaan dalam prosesi pemakaman cukup unik dan mungkin terasa menyeramkan. Mayat yang telah disemayamkan bertahun-tahun di sebuah tebing tinggi, kuburan batu, atau kuburan patani akan diupacarakan kembali dengan menganti semua pakaian dan mendandani layaknya orang yang hidup. Saat ini acara ma’ nene yang bisa kita lihat ditoraja bukan lagi mayat berjalan seperti yang terjadi pada jaman dulu tetapi saat ini hanya sebatas menganti baju jenazah/mummi kemudian mengerakkan mayat tersebut layaknya orang berjalan.

7. Adu kaki “Sisemba”

adalah satu atraksi budaya Toraja yang mungkin tidak ada di daerah lain. acara ini sangat menarik untuk disaksikan karena atraksi ini lebih mirip dengan tauran namun sisemba ini hanya menggunakan kekuatan kaki. Acara sisemba diadakan setelah panen sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Acara ini biasanya dilakukan dengan melibatkan puluhan sampai ratusan orang namun tetap dengan rasa kekeluargaan sehingga tidak terjadi rasa dendam diantara peserta.

8. Harmoni Alam Pedesaan, Budaya dan Masyarakatnya

Hal-hal menarik dan tak terlupakan di Toraja bukan hanya ritual pemakaman dan wisata kuburan. Bentang alam Toraja juga mampu menyuguhkan panorama nan eksotik yang memanjakan mata, tak perlu banyak bersolek untuk memikat wisatawan. Di Toraja, terutama di pedesaan, petak-petak areal persawahan hijau membentang ada pula yang behimpit meramping di punggung perbukitan dialiri sungai kecil seperti sebuah simpul yang menambatkan hati saya agar selalu mengingat betapa besar anugerah sang pencipta. Budaya siangkaran sipakaboro’ telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional Toraja. Akar budaya yang mewariskan senyum keramahan kepada semua yang hidup, bentuk ketulusan yang jauh dari sekat-sekat gengsi kemapanan ala komunitas perkotaan. Juga slogan Sipamisa’, Sang Torayan, Solata, dll, menjadi ikatan pemersatu etnis Toraja, baik di kampung halaman maupun di tanah rantau. Singkatnya Toraja adalah perpaduan yang harmonis antara keindahan alam dan masyarakat yang berbudaya. Sebuah pelukan hangat yang membekas dan tidak terlupa.

READ  Jangan Biarkan Karang gigi, Bisa Terjadi Komplikasi Loh Bila Di Biarkan !

9. Tenun Toraja

Kain Tenun Toraja merupakan salah satu warisan leluhur yang masih di jaga kelestariannya sampai saat ini. Kain tenun Toraja memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam budaya masyarakat Toraja . Kain tenun memegang peranan penting dalam berbagai upacara adat, juga berfungsi sebagai simbol kemakmuran dan kejayaan. Di masa lampau hanya orang-orang tertentu saja yang mampu memiliki kain-kain tersebut misalnya kaum bangsawan atau masyarakat ekonomi mampu.

10. Kopi Toraja

Berawal dari tangan para petani di pegunungan Toraja, hingga tersebar di seluruh dunia, kopi Toraja telah meninggalkan jejak-jejak aroma kebanggan bagi negeri ini. Menikmati kopi Toraja di tempat asalnya usai menjelajah alam Toraja yang indah permai tentunya menjadi keinginan para penikmat kopi. Kopi Toraja merupakan kopi jenis Arabica yang punya karakteristik sendiri, coba menikmatinya tanpa menggunakan gula atau pemanis, kita akan merasakan rasa gurih yang jarang ditemukan dalam kopi-kopi lokal di daerah lain. Rasa gurih ini merupakan salah satu ciri khas utama kopi Toraja yang membuat orang ketagihan menikmati kopi ini.

Masyarakat asli Tana Toraja memiliki tali persaudaraan yang erat. Setiap mereka merupakan anggota dari sebuah keluarga besar. Namun, hubungan mereka bertalian dekat dengan kelas sosial. Masih terlihat jelas kelas sosial strata dalam kebudayaan Tana Toraja. Kelas sosial diturunkan melalui ibu. adapun beberapa kelas sosial yang dikenal dalam kebudayaan Tana Toraja, seperti Bangsawan, orang biasa, dan Budha. Pendapat mengatakan bahwa budak sudah dihapuskan sejak jaman penjajahan Belanda, namun sekarang masih ada sebagian masyarakat yang menjadi budak kelas bangsawan. Para bangsawan akan sangat menjaga predikat kebangsawanannya. Kaum bangsawan juga harus melakukan ritual pemakaman yang meriah dan mewah, kemudian meletakkan jenazahnya di lok khusus.