Kota Khatulistiwa : Tugu Khatulistiwa Dan Fenomena Sehari Tanpa Bayangan Di Pontianak

Perlu kita ketahui khatulistiwa adalah ‘garis khayal keliling bumi, terletak melintang pada nol derajat (yang membagi bumi menjadi dua belahan yang sama, yaitu belahan bumi utara dan belahan bumi selatan). Termasuk kota Pontianak yang terletak di kalimantan barat.

Kota Pontianak  adalah salah salah satu kota besar yang ada di kalimantan sekaligus menjadi ibu kota provinsi kalimantan barat. Pontianak di juluki sebagai  kota khatulistiwa, karena daerahnya di lalui oleh garis kalitistiwa yang membelah bumi menjadi dua bagian utara dan selatan.

Status sebagai daerah yang dilalaui garis tersebut membuat Pontianak dikenal dengan fenomena hari tanpa bayangan. Fenomena ini biasa terjadi dua kali dalam setahun, yaitu antara bulan Februari-April dan September-Oktober.

Tugu Khatulistiwa

Di sebelah utara Kota Pontianak, terdapat sebuah monumen yang dikenal dengan nama Tugu Khatulistiwa. Tugu khatulistiwa ini beradadi jalan khatulistiwa, potianak utara, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kota katulistiwa.

tempat ini menjadi tempat wisata unggul di pontianak. Tugu ini menjadi ikon kota Pontianak yang memisahkan antara belahan bumi utara dan selatan.  Dari 14 negara di dunia yang dilalui garis khatulistiwa, hanya Pontianak yang tepat dilintasinya. Tugu Khatulistiwa menjadi destinasi wisata sekaligus edukasi bagi wisatawan. Beraneka ragam aktivitas dapat dilakukan dalam menjelajahi areanya.

READ  Sejara Perang Pandan, Tradisi Unik Di Desa Tenganan

Tugu Khatulistiwa ini dibangun pada tahun 1928 oleh ahli Geografi dari Belanda. Tujuannya untuk menentukan tonggak garis khatulistiwa di Pontianak. Pada tahun 1928 itu, tugu tersebut dibangun secara sederhana yaitu berbentuk tonggak dengan anak panah. Kemudian bangunan itu sedikit disempurnakan pada tahun 1930, dengan menambah lingkaran pada tonggak dan anak panah itu.

Berikutnya pada tahun 1938, dilakukan penyempurnaan kembali menjadi tugu asli yang dapat dilihat di dalam monumen. Tugu Khatulistiwa kemudian dibangun seperti saat ini pada tahun 1990 dengan pembuatan kubah dan duplikat tugu yang ukurannya lima kali lebih besar dari tugu asli.

Pembangunan Tugu Khatulistiwa ini tergolong unik mengingat tidak menggunakan peralatan canggih. Saat itu para ahli hanya menggunakan garis yang tidak lurus dan bergelombang sebagai patokan. Selain itu para ahli juga berpatokan ada benda-benda langit seperti rasi bintang untuk membangun tugu ini.

Dua Monumen Tugu

Tugu Khatulistiwa memiliki dua monumen sebagai penanda garis lintang nol derajat. Tugu yang asli berukuran lebih kecil, berada di dalam kompleks bangunan tugu besar. Sedangkan tugu duplikat yang nampak di bagian luar berukuran lima kali lebih besar.

Berkeliling bagian dalam tugu, wisatawan dapat melihat empat pilar kayu belian. Dua pilar bagian belakang lebih tinggi dibandingkan pilar bagian depan. Di antara dua pilar belakang terdapat simbol flat lingkaran bertuliskan “evenaar” yang berarti khatulistiwa.

READ  Angler Fish dan Blobfish Julukan Sebagai Ikan Terjelek

Fenomena sehari tanpa bayangan

Kota Pontianak dikenal dengan fenomena sehari tanpa bayangan yang terjadi dua kali dalam setahun. Fenomena ini terjadi ketika posisi matahari berada tepat di atas Indonesia, yaitu pada titik zenith. Posisi matahari tersebut membuat tidak ada bayangan yang terbentuk oleh benda tegak tak berongga saat tengah hari.

Sebenarnya fenomena sehari tanpa bayangan juga terjadi di kota-kota lain yang dilalui garis khatulistiwa. Namun kota-kota itu berbeda, ada yang mengalami fenomena itu sebanyak dua kali dalam setahun, dan ada yang hanya sekali dalam setahun.

Bagi kota-kota yang berada di antara dua Garis Balik Utara dan Garis Balik Selatan, seperti Pontianak, maka akan mengalami fenomena itu dua kali setahun. Sementara fenomena sehari tanpa bayangan hanya terjadi sekali setahun pada kota atau wilayah yang terletak tepat di Garus Balik Utara atau Garis Balik selatan.