Mengenal Tradisi Makepung Yang Masih Dilesatarikan Hingga Kini

Bali terkenal dengan kentalnya ada dan budaya, Bali memiliki sebuah tradisi yaitu tradisi makepung atau biasa di kenal dengan balapan kerbau, tradisi di lakukan dari semangat gotong royong para petani saat panen tiba. Keunikan tradisi ini berasal dari Kabupaten Jembrana, Bali.

Semangat para tani dengan kekeluargaan saling berpacu mengangkut hasil panen dengan kereta kayu yang di tarik sepasang kerbau jantan. Tradisi ini terus berlangsung dari jaman nenek moyang di jembrana saat panen padi, tradisi ini di lakukan bersamaan atau dengan bergotong royong menangkut padi dengan gedebeg atau cikar dalam bahasa indonesianya kereta kayu yang di tarik oleh dua ekor kerbau jantan.

Mengenal Tradisi Makepung

Makepung itu sarat dengan nuansa gotong royong dan kekeluargaan yang terbangun diantara para peserta yang melakukannya dengan ikhlas tanpa memikirkan hasil materi. Seiring dengan berjalanya waktu, tradisi Makepung di Jembrana mulai berinovasi.

Kini tradisi Makepung mulai dilombakan di sirkuit yang beralaskan tanah bahkan ada perbuhan bentuk Gedebeg atau Cikar dari kegiatan sebelumnya. Kalau dulu menggunakan Gedebeg besar agar banyak bisa muat padi, diubah bentuk Gedebegnya menjadi lebih kecil dan ringan karena hanya untuk kepentingan lomba.

READ  Begini Sebaiknya Sikap Dirimu Saat Bertengkar Dengan Pasanganmu !

Awalnya perlombaan hanya diikuti oleh beberapa kelompok kecil di internal sekaa (kelompok) Makepung. Bahkan tak ada hadiah yang disiapkan justru para peserta yang rela mengeluarkan biaya yang cukup tinggi untuk acara tersebut. Setelah itu baru pemerintah daerah mulai menyoroti tradisi Makepung dan kini menjadi agenda tahunan. Terbentuklah Makepung Bupati Jembrana Cup dengan memperebutkan tropi dan piala bergilir.

Sukses mengelar Makepung Bupati Jembrana Cup yang mampu menyedot banyak wisatawan lokal dan mancanegara, ajang pacuan kerbau ini mulai ditingkatkan menjadi Makepung Gubernur Cup. Diprakarsai oleh Gumernur Bali Ida Bagus Mantra saat menjabat tahun 1978 hingga 1988, seperti Bupati Cup, Makepung Gubernur Cup juga memiliki agenda setiap tahun.

Sempat vakum selama 10 tahun, kebijakan untuk meniadakan Makepung Gubernur Cup pun dibuat saat Made Mangku Pastikan menjabat sebagai Gubernur Bali. Namun Sekaa Makepung masih bisa bernafas untuk mempertahankan tradisi karena Makepung Bupati Jembrana Cup masih tetap berjalan. Barulah Makepung Gubernur Cup diaktifkan kembali saat Wayan Koster menjabat sebagai Gubernur Bali.

Tradisi Makepung di Jembrana mulai bangkit dan manpu menyedot ribuan wisatawan lokal dan manca negara di setiap perlombaan. Kini di Jembrana pemerintah telah membuatkan 5 sirkuit Makepung. Terbagi 2 sirkuit di blok Ijo Gading Barat, yakni di Desa Kalkakah, Kecamatan Negara dan Desa Tuwed, Kecamatan Negara.

READ  Experiencing Every Human Life in History: A Mind-Blowing Thought Experiment

Kemudian 3 sirkuit di Blok Ijo Gading Timur, yakni di Desa Delod Berawah, Kecamatan Mendoyo dan di Mertasari, Kelurahan Loloan Timur dan Desa Sangkaragung, Kecamatan Jembrana. Perlombaan Makepung yang digelar ini, para peserta yang ikut sama sekali tidak memikirkan hadiah atau imbalan. Mereka memiliki semangat untuk mempertahankan tradisi leluhur dengan semangat gotong royong dan persaudaran.

Kendala tersebut datang dari negara-negara luar yang dikenal rakyatnya penyayang binatang. Mereka yang beranggapan Makepung sebagai kegiatan yang menyiksa hewan. Namun perlulah mereka diberikan pemahaman yang utuh tentang Makepung, mulai dari sejarah lahirnya Makepung hingga pemeriharaan, perawatan dan perlakukan terhadap kerbau. Kerbau pacuan di lakukan sangat istimewan, perawatannya pun khusus dan disayangi dengan sepenuh hati.

Meskipun saat lomba kerbau-kerbau tersebut dipukul dengan cemeti terbuat dari rotan berisi paku kecil untuk mempercepat larinya, setelah itu kerbau dimandikan di kaut agar luka-lukanya langsung kering dan sembuh. Setelah itu kembali diperlakukan istimewa.