Sejarah Konflik Antara Iran dan Irak: Perang Terpanjang di Abad ke-20

Sejarah Konflik Antara Iran dan Irak: Perang Terpanjang di Abad ke-20

Perang Iran-Irak merupakan salah satu konflik paling kompleks dan berdarah dalam sejarah dunia modern. Perang yang terjadi pada tahun 1980 hingga 1988 ini merupakan salah satu konflik terpanjang di abad ke-20 dan menyebabkan kerugian besar bagi kedua belah pihak.

Latar Belakang dan Sebab Terjadinya Perang Iran-Irak

Konflik ini berawal dari perseteruan antara dua negara Islam, Iran dan Irak, yang telah terjadi sejak lama. Sejak Iran melaksanakan Revolusi Islam pada tahun 1979 dan berubah menjadi negara Islam fundamentalis, hubungan antara kedua negara semakin memburuk. Meskipun kedua negara memiliki agama yang sama, yaitu Islam, namun terdapat perbedaan pandangan mengenai Islam yang mereka anut. Iran memandang dirinya sebagai pemimpin dunia Islam, sedangkan Irak lebih memandang diri sebagai kekuatan sekuler yang berkuasa.

Sebab utama terjadinya perang ini adalah konflik wilayah. Pada saat itu, kedua negara memiliki wilayah perbatasan yang kurang jelas dan menjadi sumber ketegangan yang sering terjadi. Selain itu, keduanya juga bersaing dalam memperebutkan pengaruh di Timur Tengah, terutama setelah Iran menjalankan revolusi Islam yang memicu perubahan politik dan sosial yang signifikan di kawasan tersebut.

Tahap-tahap Perang Iran-Irak

Perang Iran-Irak terjadi dalam beberapa tahap yang dapat dikelompokkan ke dalam dua fase. Fase pertama dimulai pada September 1980, ketika Irak menyerbu Iran tanpa peringatan. Serangan ini dilakukan oleh Presiden Saddam Hussein dengan tujuan untuk merebut wilayah Khuzestan yang kaya minyak. Namun, serangan ini tidak berjalan sesuai rencana, karena pasukan Irak mengalami kesulitan dalam memasuki wilayah Iran yang berbukit dan berhutan lebat.

READ  Kemegahan Masjid Raya Al Jabbar Menjadi Ikon Kota Bandung
Tahap-tahap Perang Iran-Irak
Tahap-tahap Perang Iran-Irak

Iran merespons serangan tersebut dengan mengirim pasukannya ke Irak. Namun, pasukan Iran mengalami kesulitan dalam menghadapi pasukan Irak yang lebih modern dan terlatih dengan baik. Selain itu, Iran juga mengalami masalah dalam hal persenjataan dan perbekalan militer karena kebijakan embargo internasional yang diberlakukan terhadap mereka.

Fase kedua dimulai pada tahun 1982, ketika pasukan Iran mulai melancarkan serangan balasan terhadap Irak. Serangan tersebut dipimpin oleh Ayatollah Khomeini, pemimpin spiritual Iran yang mengajukan konsep perang suci untuk membela Islam dan menentang kekuasaan Saddam Hussein. Iran juga mendapatkan dukungan dari pihak Suriah dan Lebanon dalam melawan Irak.

Perang ini berlangsung dengan sengit dan kedua belah pihak saling mengalami kerugian besar. Irak mendapatkan dukungan dari negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, karena mereka ingin menjaga kepentingan mereka di Timur Tengah. Sementara itu, Iran mendapatkan dukungan dari negara-negara non-Barat, seperti China dan Korea Utara.

Perang ini juga menimbulkan banyak tragedi kemanusiaan, seperti penggunaan senjata kimia oleh Irak yang menyebabkan ribuan korban tewas dan cacat seumur hidup. Selain itu, kedua belah pihak juga melaksanakan aksi-aksi terorisme di wilayah masing-masing, yang mengakibatkan banyak warga sipil menjadi korban.

READ  Wisata Pusat Laut Donggala Yang Memesona

Akhir dari Perang Iran-Irak

Perang Iran-Irak berakhir pada tahun 1988 setelah kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri konflik dan menandatangani perjanjian perdamaian di Jenewa. Meskipun perjanjian tersebut mengakhiri perang, namun hubungan antara kedua negara tetap tegang dan tidak sepenuhnya pulih.

Akhir dari Perang Iran-Irak
Akhir dari Perang Iran-Irak

Perang Iran-Irak menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi kedua belah pihak. Sekitar satu juta orang tewas dalam perang ini, baik dari pihak Iran maupun Irak. Selain itu, perang ini juga mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar, karena infrastruktur dan wilayah produksi minyak di kedua negara rusak parah.