Tradisi Batu Poaro Mengingat Sejarah Masuknya Islam Menjadi Tradisi Turun Temurun

Tradisi Batu Poaro merupakan sebuah tradisi yang sudah dilakukan oleh masyarakat Buton secara turun-temurun di kota Baubau sulawesi tenggara . Menurut Kapitalao Matana eyo atau Panglima Bagian Timur Kesultanan Buton La Ode Muhammad Arsal, tradisi Batu Poaro merupakan cara masyarakat Kesultanan Buton untuk mengingat kembali perjuangan Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman Al-Fathani yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam pertama di tanah Kesultanan Buton. Syekh Abdul Wahid juga diketahui merupakan orang pertama yang mengajarkan Lakilaponto atau Sultan Murhum tentang Islam. Kemudian dijadikannya sebagai murid untuk menyebarkan agama Islam di tanah Buton.

Batu poara ialah simbol dan tradisi yang menggambarkan tentang keberadan seorang penyiar agama Islam di Buton, Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman Al-Fathani

Batu Poaro merupakan batu petilasan Syekh Abdul Wahid sesaat setelah meninggalkan Pulau Buton dengan cara menghilangkan diri. Kemudian batu petilasan tersebut sebagai bukti karomah Syekh Abdul Wahid yang dipercaya masyarakat Buton yang terletak di wilayah pesisir Kelurahan Wameo, Kecamatan Batu Poaro, persis berada di sisi Masjid Islamic Center La Ode Muhammad Idrus Kaimuddin.

Ini merupakan batu petilasan tempat terakhir pijakan daripada Syekh Abdul Wahid sebelum meninggalkan Pulau Buton menghilang Samudra laut Buton yang begitu luas.

Dahulu, Syekh Abdul Wahid mulai datang pertama kali ke Pulau Buton sekitar tahun 936 Hijriah atau 1526 Masehi. Ia datang dengan tujuan untuk menyiarkan agama Islam di masa kerajaan Buton Rajamulae.

READ  Apa yang menjadi penyebab stroke dan bagaimana cara mengatasinya?

Beliau ini masih cucu dari Imam Besar Abdul Qodir Jaelani dari pihak ibu. Beliau datang ke Buton dengan menyiarkan agama Islam pada masa Raja Rajamulae yang merupakan raja kelima di Kerajaan Buton

Namun saat menyiarkan agama Islam kala itu, sebagai pemecah kalangan Kerajaan Buton. Mulai dari Rajamulae hingga perangkat Kerajaan Buton kacau. Menurutnya, kekacauan itu karena ajaran Islam yang dibawa untuk menyiarkan agama dirasa bertentangan dengan kerajaan.

Tapi karena syariat Islam yang dibawa oleh Syekh Abdul Wahid, maka kondisi di kerajaan Buton itu terpecah antara kerajaan dan seluruh perangkatnya, Kerjaan kemudian dengan tegas menolak ajaran Islam yang dibawa tersebut dan mengusir Syekh Abdul Wahid dari Tanah Buton. Ia kemudian pasrah dan pergi meninggalkan Tanah Buton.

Kerajaan kurang kondusif, lalu istana melakukan pengusiran terhadap beliau. Karena beliau adalah seorang ulama yang memiliki karomah tentu dia diperlakukan seperti itu, maka dia mengikut saja untuk pergi. Dalam berbagai riwayat, Syekh Abdul Wahid menuju Wameo. Di tempat itu, ia memecahkan batu menjadi dua sebagai pijakan dan penanda bahwa tempat itu merupakan titik terakhir menghilangkan diri untuk pergi menuntut ilmu lebih dalam lagi. Ketika dia menuju suatu tempat yang dinamakan Wameo, maka di tempat itu beliau ingin meninggalkan Pulau Buton dengan mengambil batu yang dipecahkan menjadi dua untuk menjadi pijakannya

READ  Bersama Melindungi Bumi: Ayo Mulai Kurangi Efek Rumah Kaca!

Kemudian batu itu atas izin Allah bisa terapung dan menjadikan sebagai kapal dan sorbannya sebagai layar. Jadi Batu Poaro itu tempat hilangnya pertama pergi memperdalam lagi ilmunya di Gresik, Johor, dan Madinah.

Dalam masa menuntut ilmu, Syekh Abdul Wahid diberi pesan oleh Syekh Makkah untuk kembali ke tanah Buton dan memberikan gelar raja yang memimpin sebagai Sultan. Ketika di Makkah, beliau diminta oleh seorang Syekh untuk memberi gelar raja di Buton dengan Sultan. Setelah kurang lebih 12 tahun pergi. Arsal membeberkan beliau kembali ke tanah Buton sekitar tahun 1538 Masehi. Namun saat itu sistem kerajaan sudah berganti menjadi Kesultanan dan dipimpin oleh Lakilaponto atau Sultan Murhum sebagai Sultan pertama. Jadi bukan lagi Raja Rajamulae seperti pertama kali menginjakkan kaki di Buton.

Sultan Murhum saat itu merasa ajaran yang dibawa oleh Syekh Abdul Wahid sangat penting untuk keberlangsungan Kesultanan yang dipimpinnya. Sultan Murhum kemudian menerima ajaran tersebut. Arsal menjelaskan gelar yang diamanahkan gurunya di Makkah dianugerahkan kepada Lakilaponto.

Karena begitu pentingnya syariat Islam yang dibawa oleh beliau, maka secara langsung diterima oleh Sultan Murhum dan seluruh perangkat Kesultanan Buton saat itu. Kemudian beliau menobatkan sebagai Al-Sultan Murhum Muhammad Idrus Kaimuddin. Termasuk bendera Kesultanan Buton juga ada aksara Al-Sultan.

masyarakat Buton khususnya Kota Baubau terus melaksanakan tradisi tersebut. Setiap tahunnya, tradisi itu cukup ramai dihadiri masyarakat umum. Saat tradisi ini berlangsung masyarakat dan pemerintah menyediakan sedekah berupa makanan-makanan tradisional yang disimpan di atas talang untuk mengundang seluruh lapisan masyarakat yang datang menyaksikan tradisi itu.

READ  Monas, Lebih dari Sekedar Monumen

Kemudian tokoh agama menjalankan ritual tradisi itu dengan pembacaan doa yang dipanjatkan kepada Allah agar seluruh masyarakat Buton dan Baubau ini diberikan keberkahan hidup kalau misalnya ada penyakit yang melanda supaya bisa diangkat, dijauhkan seluruh malapetaka yang menimpa dan terpenting adalah bagaimana seluruh hajat masyarakat terkabulkan.

Anak-Anak Berebut Uang Sebagai Daya Tarik

ait tradisi tersebut identik dengan anak-anak berebut uang. di zaman dulu tidak ada prosesi pelemparan uang dan dipungut oleh anak-anak. Sejatinya, uang itu ditaruh oleh orang-orang yang datang dengan menyelipkan di batu petilasan tersebut.

Ketika sudah membaca doa, kemudian makanan itu ditaruh di atasnya Batu Poaro dan orang yang lewat di tempat itu disuruh mengambil isi talang daripada makanan yang disediakan termasuk uang-uang sedekah yang disimpan di lubang-lubang batu.

adanya proses anak-anak berebut uang guna membuat daya tarik terutama kepada anak-anak agar bisa mengikuti tradisi ini sebagai upaya melestarikan tradisi turun-temurun tersebut. Tapi sekarang ini agak bergeser uang sedekah itu dibuat dilemparkan karena mungkin jadi sebagai daya tarik buat anak-anak agar bisa melestarikan tradisi itu. Tradisi itu dihadirkan dalam rangkaian hari jadi Kota Baubau setiap tahunnya.