Tradisi Unik Suku Minahasa Menjadi Daya Tarik Wisatawan

Tradisi unik suku minahasa masih bertahan di tengah gempuran budaya lain yang terus berdatangan. Hal ini terlihat dari masih di tampilkanya tradisi tersebut oleh masyarakat minahasa, sulawesi utara dalam setiap kesempatan. Minahasa merupakan suku yang mendiami kawasan Sulawesi Utara khususnya Kota Manado. Masyarakat Minahasa dikenal sangat ramah.
Daerah berpenduduk lebih 300.000 jiwa itu dikenal dengan tradisi serta kebudayaannya yang banyak, seperti dalam bidang kesenian baik tarian, rumah adat dan kegiatan sosial yang sering dilakukan oleh masyarakat Minahasa Suku Minahasa juga memiliki ciri khas yang membedakan dengan daerah  lainnya.

1 . Musik Kolintang dan Bambu

Tradisi unik suku Minahasa yang satu ini terus bertahan hingga sekarang. Dari generasi ke generasi jenis dan pemainnya terus berubah.
Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, Minahasa juga memiliki musik tradisional yang tetap mengakar. Suku Minahasa memiliki salah  alat musik tradisional yang unik dengan perpaduan suara menenangkan. Seperti misalnya alat musik kolintang dan musik bambu.

Kolintang.

Kolintang adalah instrumen musik yang biasanya dipakai sebagai pengiring dari seorang penyanyi lagu-lagu daerah ataupun cuma musik instrumen saja. Kolintang sudah sangat terkenal di Indonesia bahkan juga sudah dipromosikan ke luar negeri. Kolintang dimainkan oleh sebuah regu, biasanya satu regu itu terdiri dari 5 sampai 6 orang. Kolintang diajarkan sejak dini kepada anak-anak bahkan ketika masih duduk di bangku sekolah. Bentuknya yang cukup besar mampu menghasilkan suara nan merdu.

Musik Bambu

Musik bambu juga adalah musik tradisional dari Minahasa satu regu terdiri 30 – 40 orang bahkan ada yang lebih. Musik bambu dari Minahasa sudah sangat terkenal di Indonesia bahkan tidak jarang acara dari luar Sulawesi Utara yang mengundang 1 regu musik bambu. 2. Mapalus Tradisi unik suku Minahasa lainnya yaitu yang masih bertahan hingga saat ini salah satunya adalah Mapalus. Kegiatan Mapalus masih dilakukan masyarakat suku Minahasa yang tersebar di kota atau kabupaten di Sulawesi Utara.

2. Mapalus

Tradisi unik suku Minahasa lainnya yaitu yang masih bertahan hingga saat ini salah satunya adalah Mapalus. Kegiatan Mapalus masih dilakukan masyarakat suku Minahasa yang tersebar di kota atau kabupaten di Sulawesi Utara. Mapalus merupakan sebuah bentuk kebudayaan yang direalisasikan melalui kegiatan saling membantu yang dilakukan suatu kelompok masyarakat.  Mapalus yaitu budaya gotong-royong atau tolong-menolong yang berkembang di Minahasa. Mapalus juga merupakan suatu model kerja bersama beberapa keluarga, kelompok-kelompok kerja yang dibentuk dalam suatu wilayah.
Gotong royong memang sudah menjadi sebuah kegiatan yang menyimbolkan masyarakat Indonesia. Sama halnya dengan suku Minahasa, karena terdapat sebuah sistem tradisionalnya yang berbentuk gotong royong. Budaya mapalus atau bekerja bersama dan saling bantu ini telah berakar dan membudaya di kalangan masyarakat Minahasa. Budaya tersebut sampai saat ini masih terjaga dan terpelihara. Pada kehidupan sehari-hari masih bisa dirasakan sikap suka membantu dan bekerja sama. Kecuali beberapa kegiatan yang merupakan rangkaian dari ‘mapalus’ seperti memakai alat tiup ketika mengajak kelompok untuk ber’mapalus’ sudah mulai hilang. Perlahan keaslian mulai terkikis dengan modernisasi.

READ  Pentingnya Pencahayaan Alami Dalam Rumah

3. Tarian Kabasaran

Selain musik tradisional, Suku Minahasa juga memiliki salah satu tarian yang mampu menarik banyak perhatian para wisatawan atau pelancong. Tarian ini meniru perilaku yang dilakukan para leluhur saat melawan musuh. Tarian suku Minahasa yakni tarian perang ini bernama Kabasaran. Kabasaran adalah sekelompok pria yang memakai baju adat perang Minahasa. Kabasaran juga sering disebut dengan Cakalele, tapi sebutan Cakalele adalah sama dengan tarian perang dari daerah Maluku. Pada saat ini tarian perang Kabasaran dipertunjukan pada saat-saat pawai dan juga pada waktu penjemputan tamu-tamu penting daerah.
Tarian Kabasaran masih bertahan hingga kini. Di balik penampilannya yang serba merah, tarian ini memiliki sejarah menakjubkan. Bukan karena tampilan mereka layaknya seorang pemberani dengan pedang yang siap menghunus. Atau penampilannya tampak sangar saat mata terbelalak dengan pakaian serba merah. Namun segala aksesoris lehernya dengan beragam tengkorak dijejer kadang membuat bulu kuduk berdiri bagi yang baru melihatnya.

Gaya para penari dengan pakaian serba merah, mata melotot, wajah garang, diiringi tambur sambil membawa pedang dan tombak tajam itu sejatinya membuat Kabasaran ini kharismanya tak pernah redup. Warna pakaian dominan merah dengan berbagai aksesoris berupa topi berhias sayap dan paruh burung uwak (buceros exaratus) atau burung jenis lainnya. Kalung dengan tengkorak monyet (macaca nigra), gelang dan lain-lain menambah kesempurnaan seorang prajurit yang gagah perkasa. Dialah para Waraney yang memiliki sifat jujur, pemberani dan bijaksana. Simbol ketangguhan Bangsa Malesung atau Tanah Minahasa yang memiliki suatu arti bahwa keturunan bangsa Malesung harus selalu menjaga tanah Minahasa agar selalu tentram dan damai, dimana para Waraney era ini di tuntut untuk rajin bekerja, membangun daerah, berjuang untuk anak cucu.

READ  Pentingnya Pendidikan Moral dalam Membentuk Karakter Siswa

4. Waruga

Peninggalan budaya suku Minahasa yang mudah dijumpai hingga saat ini yakni waruga. Waruga atau kuburan tua merupakan peti kubur peninggalan zaman megalitikum orang Minahasa. Menurut catatan sejarah waruga berasal dari bahasa Tombulu, yakni dari kata Wale Maruga yang berarti rumah dari badan yang akan kering. Sedangkan dalam arti lainnya, yakni Wale Waru atau Kubur dari Domato (jenis tanah lilin).

Nama waruga juga berasal dari kata waru dan ruga. Waru berarti rumah, sedangkan ruga berarti badan. Dengan demikian, waruga dapat dimaknai sebagai rumah tempat raga kembali ke surga. Namun yang pasti, waruga atau bisa disebut juga dengan makam leluhur merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Indonesia yang berada di Sulawesi Utara tepatnya Minahasa.

5. Upacara Toki Pintu

Tradisi unik suku Minahasa berikutnya upacara Toki Pintu. Tradisi ini merupakan tradisi saat pernikahan suku Minahasa yang mayoritas memeluk agama Kristen Protestan. Acara dilakukan dengan makan malam dan kebaktian. Toki Pintu berarti mengetuk pintu. Toki Pintu sendiri berisi antar harta hingga prosesi upacara adat yang dirangkai dalam satu hari pelaksanaan. Upacara ini diawali dengan memastikan bahwa kediaman pengantin wanita dalam keadaan sepi dan sunyi. Semua jendela dan pintu harus tertutup dan lampu dimatikan..
Kemudian, rombongan pengantin pria menghampiri kediaman mempelai wanita dipimpin oleh seorang wali atau utusan dengan membawa mas kawin berupa kain bentenan, buah-buahan, aneka makanan khas Manado, umbi-umbian, dan seperangkat busana atau kosmetik seperti sepatu atau perhiasan. Lalu, wali pihak pria akan mengetuk pintu tiga kali. Diketukannya yang pertama dan kedua, pintu tidak akan dibuka, dan baru pada ketukan ketiga pintu akan dibuka, dan disambut oleh wali pengantin wanita. Ini adalah simbol bahwa si pengantin wanita bukanlah perempuan murahan. Setelah itu diadakan dialog dalam bahasa daerah Minahasa.

6. Pesta kuncikan

Tradisi unik suku Minahasa berikutnya Pesta Kuncikan. Tradisi ini dimeriahkan oleh masyarakat suku Minahasa untuk menutup tahun yang lama dan menyambut tahun yang baru. Kuncikan merupakan tradisi sebagian masyarakat untuk mengunci tahun yang lama dan menyambut tahun yang baru. Kegiatan ini biasanya digelar pada hari Minggu terakhir di bulan Januari. Dalam pesta kuncikan terdapat sebuah tradisi yang selalu menjadi simbol utama yaitu tradisi Sakaiba. Tradisi Sakaiba mengalami perubahan makna yang dilaksanakan pada pesta kuncikan dari makna asli yaitu sebagai pembersihan desa dari roh-roh jahat.
Nah, untuk mengelabui roh-roh jahat tersebut masyarakat memakai atribut seperti pakaian dari serabut kelapa (gomutu) agar dapat menipu roh-roh jahat yang bersembunyi di balik pohon aren. Pada masa kini tradisi tersebut menjadi sebuah tradisi yang bersifat hiburan yang kemudian memunculkan unsur komodifikasi di dalamnya.

READ  Ini Loh Kelebihan dan Kekurangan sebagai Freelancer dan Pekerja Tetap 

7.  Syukuran

Tradisi unik suku Minahasa lainnya yaitu syukuran. Kegiatan ini biasanya dirayakan masyarakat di seluruh tanah Minahasa. Dirayakan setiap tahun di setiap kecamatan atau kawasan dengan  diadakan upacara syukuran yang dikaitkan dengan upacara keagamaan. Kegiatan ini dipusatkan di gereja-gereja yang ada di kecamatan atau kawasan tersebut. Maksud diadakannya upacara syukuran adalah untuk mengucap syukur atas segala berkat dan anugerah yang telah Tuhan berikan di Tanah Minahasa dalam setahun, upacara syukuran ini memiliki kemiripan dengan upacara Thanksgiving di Amerika.

8. Naik Rumah Baru

Selain upacara syukuran di atas, di tanah Minahasa juga dikenal memiliki upacara-upacara adat yang lain seperti jika seseorang/keluarga akan menempati sebuah rumah atau menempati tempat kediaman baru maka orang/keluarga tersebut akan melaksanakan upacara syukuran Naik Rumah Baru. Tradisi unik suku Minahasa ini dianalogikan dengan bentuk rumah tradisional Minahasa yang berbentuk rumah panggung sehingga untuk memasukinya harus menaiki sejumlah anak tangga.

9. Bahasa

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Sulawesi Utara selain menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa percakapan juga menggunakan bahasa daerah Minahasa. Seperti diketahui di Minahasa terdiri dari delapan macam jenis bahasa daerah yang dipergunakan oleh delapan etnis yang ada, seperti Tountemboan,Toulour,Tombulu, dan lain-lain.

Itulah sembilan tradisi unik suku Minahasa yang masih bertahan hingga sekarang. Tradisi tersebut memperkaya budaya Indonesia yang memiliki daya tarik untuk wisatawan. (inewsulut.id)