Viral ! Alasan Warunk Upnormal Tutut

Warunk Upnormal merupakan kafe yang sempat digandrungi kawula muda. Namun, kini beberapa gerainya mulai sepi dan banyak yang tutup. Sebagai informasi, Warunk Upnormal adalah sebuah kafe yang menyajikan berbagai sajian mie instan dengan cita rasa yang beragam. Selain itu, ada pula menu lainnya seperti roti bakar, pisang bakar, nasi goreng, dan lainnya.

Selain memiliki suasana yang nyaman, kafe ini juga menyediakan berbagai fasilitas yang membuat pengunjungnya betah berlama-lama di sana, seperti game board dan WiFi.
Warunk Upnormal merupakan salah satu gerai makanan milik PT Citarasaprima Indonesia Berjaya (CRP Group). Kafe ini sudah berdiri sejak tahun 2014 dengan gerai pertamanya di Bandung.

Berdasarkan catatan detikcom, Rex Marindo adalah salah satu sosok dibalik berdirinya gerai tersebut. Dalam memulai bisnis kulinernya, ia juga mengalami jatuh bangun. Dirinya sempat menjadi pegawai kantoran bahkan pernah menjadi koki dadakan dan ditinggal pegawainya. Walau demikian, kini bisnis kulinernya telah memiliki puluhan cabang di berbagai kota dan pulau di Indonesia.

Selain itu, dilansir dari situs resmi CRP Group, berbagai penghargaan telah disabet oleh kafe tersebut beberapa tahun setelah berdiri. Di antaranya The Best Coffee Shops in Jakarta tahun 2019, Franchise Top of Mind 2017, 25 Top Rising Star Brand 2018, dan lainnya.

READ  Dosen UII Hilang di Norwegia, Interpol Dilibatkan untuk Mencari Keberadaannya

Selain Warunk Upnormal, CRP Group sendiri memiliki brand lainnya seperti Bakso Boedjangan, Nasi Goreng Rempah Mafia, serta Sambal Khas Karmila.

Tak hanya di Bali, gerai di Palembang juga ternyata sudah tutup. Hal tersebut disampaikan akun @warunk_upnormal di kolom komentar kala merespons pertanyaan warganet.

Bukan hanya itu, di kolom komentar yang sama, pihak Warunk Upnormal juga mengonfirmasi bahwa gerai di Karawang tidak beroperasi.

Gerai terakhir yang mereka datangi adalah Warunk Upnormal Taman Puring. Saat tim Harian Bisnis sampai, pelanggan di gerai tak sampai 10 orang.

Salah satu karyawannya bernama Syahril Ramadhan, mengungkap bahwa hal tersebut disebabkan akses Taman Puring yang sebagian masih tertutup. Meski demikian, performa gerai sudah membaik daripada saat pandemi.

Selama PPKM ketat, mereka hanya mendapat omzet Rp500 ribu per hari. Kini, omzet naik hingga 10 kali lipat atau setara Rp10 juta per hari.

Berdasarkan pantauan, akun Twitter Warunk Upnormal juga telah lama hiatus. Cuitan terakhirnya bahkan ada di 23 Juli 2020.

Sementara di Instagram, akun Warunk Upnormal Renon, Bali, sudah berpamitan ke pelanggan sejak akhir Oktober tahun lalu.

Tutupnya gerai Warunk Upnormal ternyata juga merembet ke kota-kota lain. Diketahui, gerai-gerai di Bogor, Makassar, Purwokerto, Mojokerto, Gejayan, Seturan, Lampung, Buah Batu, Cimindi, Kopo, Cinere, Cirebon. Semarang, Jambi, Pekanbaru, Banjarmasin, Sumenep, Jatinangor, hingga Tegal juga tutup.

READ  Lomba Lari Tradisional Ramadhan Di Kota Palu

Alasan Warunk Upnormal Banyak yang Tutup

Banyaknya gerai Warunk Upnormal yang tutup menimbulkan pertanyaan bagi banyak orang. Pasalnya, kondisinya begitu cepat berbalik jika kita bandingkan dengan 2019 silam.

Menjawab pertanyaan tersebut, Chief Investment Strategist Aman Digital, Benny Bathara, melalui kanal YouTube Bennix, mengungkap tujuh penyebab gerai Warunk Upnormal tutup

Benny mengungkap, alasan pertama adalah makanan yang terlalu mahal. Menurutnya, dulu orang-orang bisa membeli 2 sampai 3 porsi mi rebus dengan harga Rp50 ribu.

Tetapi, dengan harga dan rasa mi yang sama, di Warunk Upnormal, konsumen hanya mendapat satu porsi.

tak dipungkiri, ekspansi bisnis mempengaruhi kesuksesan sebuah bisnis di masa mendatang.

Tetapi, Warunk Upnormal terlalu cepat melakukannya. Pada 2019 saja, mereka mengoperasikan 85 gerai di 20 kota.

Warunk Upnormal diketahui menyasar segmen anak muda dengan usia 15 sampai 25 tahun. Kelompok umur tersebut menyukai penganan berharga murah.

Sehingga, ketika Warunk Upnormal terus menaikkan harga menu, pelanggan lebih memilih gerai lain yang punya harga lebih masuk akal.

Pandemi turut menurunkan performa sebagian lini bisnis, termasuk F&B. Bisa jadi, pandemimenyumbang kerugian besar untuk resto di bawah CT Corp ini.

Pelanggan Warunk Upnormal pasti tahu jika gerai tersebut memiliki arsitektur yang indah. Dengan demikian, mereka butuh lebih banyak dana untuk pemeliharaan.

READ  Inilah Alasan Mengapa Pasar Talise Sepi, Keluhan Pedagang Bertahan Meski Merugi